Ahli Waris Baso Muhadong Klarifikasi Kehadiran di Area Pembangunan Jalan UIN Banjarbaru
Kuasa ahli waris Baso Muhadong, Rabiatul, memberikan klarifikasi terkait kehadirannya di kawasan lahan yang berdekatan dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarbaru) pada Senin (3/11/2025).
Banjarbaru, Targetoperasi.id - Menurut Rabiatul, kehadirannya di lokasi dilakukan setelah menerima informasi adanya aktivitas pembangunan jalan yang melibatkan aparat dan pihak UIN.
"Saya mendapat kabar ada pihak Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan perwakilan UIN di lapangan. Jadi saya ikut turun ke sana untuk memastikan kegiatan yang dilakukan. Pihak Polsek menyebut mereka bertugas mengamankan pekerjaan pengecoran jalan menuju kampus,” jelasnya.
Ia menegaskan, kedatangannya bersama beberapa anggota Gerakan Pemuda Peduli Kalimantan (GEPPAK) bukan untuk mengklaim lahan milik pihak lain, melainkan untuk meninjau tanah yang diklaim sebagai milik ahli waris Baso Muhadong.

"Kami datang sebagai kuasa ahli waris, karena salah satu ahli waris sudah memiliki sertifikat hak milik (SHM). Tujuan kami hanya ingin memagar tanah sendiri, bukan tanah milik UIN atau pihak lain,” ujar Rabiatul.
Rabiatul menyebut pihaknya tetap menghormati aktivitas pembangunan jalan dan aktivitas mahasiswa, meski akan menutup sebagian akses jalan yang melintasi lahan milik ahli waris.
"Kami tidak menghalangi kegiatan pembangunan. Silakan para pekerja menyelesaikan proyeknya, asalkan tidak melibatkan tanah kami. Untuk mahasiswa, tetap bisa beraktivitas seperti biasa melalui jalur alternatif yang sudah kami sediakan,” tambahnya.
Ia juga mengungkapkan kekecewaannya karena tidak ada perwakilan resmi dari pihak UIN yang hadir di lapangan untuk berdialog langsung.
"Kami datang dengan itikad baik dan sudah bersurat kepada Babinsa serta Bhabinkamtibmas sebagai bentuk pemberitahuan. Kami bukan penyerobot, kami warga negara yang taat hukum,” tegasnya.
Lebih lanjut, Rabiatul berharap agar pihak kampus dapat membuka ruang komunikasi untuk mencari solusi bersama melalui jalur mediasi.
"Kami berharap UIN bisa bersikap kooperatif dan mau duduk bersama agar masalah ini tidak berlarut. Lahan ini sudah bersertifikat sejak lama dan kami hanya ingin hak kami dihormati,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menyoroti adanya pemasangan kamera CCTV yang diduga dilakukan pihak kampus di atas lahan yang diklaim milik ahli waris.
"Kami keberatan jika ada CCTV yang dipasang di atas tanah kami. Kami harap pihak kampus bisa menghormati batas wilayah dan menjadi contoh yang baik sebagai lembaga pendidikan,” pungkas Rabiatul.(Intan).
Erik